Pages

Thursday, October 29, 2015

What a lovely difference - Part 1

Hello universe!

Apa kabar? How's life? Sudah cukup lama saya melalui hari-hari tanpa bercuap-cuap di mini-website yang saya miliki ini. Ya, hampir 1 bulan 14 hari, saya pergi merantau di negeri orang, dengan budaya baru, orang baru (yang belum dikenal sebelumnya, atau bahkan dekat sebelumnya), dan terlebih lagi, cara belajar yang baru. 
Menurut saya, memang terlihat bahwa begitu banyak perbedaan antara negara kita dengan negara maju, mungkin yang saya bahas disini, adalah Inggris (ya, salah satu alasannya adalah karena saya mengalaminya). Tetapi, begitu banyak perbedaan tidak berarti tidak ada persamaan, masih ada beberapa hal yang sama antara dua negara dengan jarak puluhan ribu kilometer ini. 
Pelajar dari Indonesia, banyak berkata bahwa sistem belajar di negeri orang terkadang dan terkesan jauh lebih mudah, lebih enak dibandingkan di Indonesia. Menurut saya, 75% memang begitulah adanya, begitulah keadaannya (secara umum dan kasarnya). Well, sekarang persoalannya adalah, dengan sistem edukasi yang bisa dibilang lebih angel (sulit) di Indonesia, kenapa outcome atau dalam hal ini mungkin SDM kita jauh berbeda? Mengapa bisa begini? 

Beberapa hal yang menjadi refleksi diri untuk saya sendiri beberapa minggu terakhir ini dan mungkin salah satu faktor yang bisa kita pakai untuk memperbaiki diri kita, teman, keluarga, dan tentunya Bangsa Indonesia.

1. Simple or complete lecture note?

Apabila mau dibandingkan, lecture note atau PPT, disini sangat sedikit dibandingkan dengan PPT yang diberikan dosen sewaktu saya menempuh kuliah di Indonesia! Cukup poin-poin penting, tanpa ada penjabaran! Disinilah perbedaannya, disini kita diharuskan untuk memahami bukan menghafal. Apakah maksudnya ini semua? Saya diberikan kesempatan untuk membuka lebar-lebar isi otak saya, mengharuskan saya membaca setumpuk buku tebal dan melakukan referensi terkini mengenai teknologi-teknologi terbaru di bidang saya. Well, experiment and experience will always be the best teacher for you. Menurut saya, akan lebih baik bila mahasiswa didorong untuk menimba ilmu, memperkaya ilmu, dengan usahanya sendiri. Menurut saya sendiri, dosen merupakan penyalur bagaimana kita bisa mengetahui ilmu-ilmu baru, tetapi bukanlah tugas mereka untuk memberi tahu kita seluruh informasi ataupun pengetahuan yang beliau miliki. Terapkanlah, bahwa kita menginjak bangku kuliah, paling tidak diatas umur 15 tahun, yang hal itu berarti kita sudah cukup besar dan sudah mampu untuk berusaha dengan apa yang kita miliki.


2. Lecture time

Sebelumnya, saya menempuh pendidikan untuk mendapatkan gelar sarjana di UGM (hampir seluruh universitas memiliki peraturan yang sama).  Dimana, saya harus kuliah dari pagi (jam 7) sampai siang (at least jam 11/jam 1 siang). Selesai kuliah, saya diharuskan mengikuti praktikum dari jam 1 siang sampai dengan jam 4 sore (paling cepat-terkadang bisa sampai jam 6 atau jam 7 malam), dan ini bisa saya lakukan hampir setiap hari, dari hari Senin-Jum'at. Total saya kuliah 8-9 jam per hari. Ini tidak termasuk masih banyaknya tugas perkuliahan dari dosen, laporan praktikum, presentasi atau bahkan aktivitas organisasi.
Sedangkan, disini saya kuliah hanya dari jam 9 pagi sampai 11 siang. Kemudian jam 2 siang sampai 4 sore. Total kuliah 4 jam per hari. Tanpa praktikum dan waktu kuliah tidak full dari senin-jum'at.

Apa bedanya? Walaupun waktu kuliah, sit in lecture memang hanya 4 jam, kita dibekali dengan "silahkan belajar mandiri". Inilah, tantangan sebenarnya. Saya boleh saja berdiam diri di dorm ataupun ke library untuk membaca dan melengkapi materi kuliah saya. Saya diperbolehkan pergi ke laboratorium (secara mandiri). Semua jadwal, terserah saya. Semua deadline, terserah saya. Tidak akan ada dosen yang mengingatkan deadline ujian, deadline tugas, atau menjelaskan kisi-kisi materi ujian. Mereka hanya memberi rekomendasi tentang buku yang baik. Dan saya bisa mencarinya atau tidak sama sekali. As i said, it's my decision, whether I want to stroll around in the bed or in the library.

3. Bacalah buku! Baca dan baca!

Well, this isn't the first time that you will ever hear this phrase. Ini memang membawa banyak manfaat untukmu nantinya. Jangan hanya membaca buku untuk mencari 1 atau 3 paragraf dalam menulis reports. Bacalah secara menyeluruh, karena disitu kita akan paham seluruh info yg ingin penulis sampaikan ke pembaca (secara menyeluruh, tidak separuh-separuh). Bukankah kamu ingin mendapatkan sesuatu hal secara utuh dan bukannya setengah atau sepertiganya? 
Membaca sendiri  dari buku atau jurnal (tanpa penjelasan dari orang lain aka dosen atau teman) bisa sangat membantu saya atau mungkin kamu untuk memahami seluruh materi atau informasi. Kita bisa mencernanya memahaminya bukan hanya mengingatnya (memorize something is good, but, it's better to understand). Kalau bisa dibilang, dengan pemahaman, bobot kamu memang unggul 90-100%.

4. Bekali dirimu dengan tulisanmu!

Walaupun harga stationery atau buku disini sangat mahal, tapi, mungkin inilah yang membuat orang-orang disini lebih doyan menulis. Dengan menulis, curahan pikiran atau ide mereka bisa tersalurkan dan tidak hanya mampir sejenak di otak. At least, if you write down your thought, you can remember what it is again when you simply forget about that
Bagaimana menulis yang baik? Bagaimana prosedurnya? Adakah syaratnya? TIDAK! Tidak ada syarat menulis yang baik. Yang ada adalah bagaimana karyamu tulisanmu bisa membuat orang lain yang membacanya paham akan maksud dan tujuan yang ingin kamu sampaikan. Well, you don't want to write something that only you who understand about those writings, do you?
Cobalah menulis yang sesuai dengan apa yang hendak kamu katakan secara lisan. Bukan sekedar tulisan yang bertele-tele, atau ngalor ngidul. Tetapi, straight to the point. You can write your thoughts with simple explanation but logical reasons
"lebih baik memulai menulis (membuat sesuatu) daripada hanya sekadar membaca dan berkomentar mengenai karya orang lain, karena, bukankah lebih baik memberi daripada diberi?"
Cobalah lebih dan lebih banyak menulis. It's better late than never. It's better to keep practicing than comment towards other people's work.


Mungkin, saya hanya bisa bercuap-cuap, mengeluarkan apa yang saya pikirkan dalam bentuk tulisan. Saya berharap tulisan saya bisa menjadi salah satu tulisan yang bisa membantu anda untuk refleksi diri dan secara sedikit demi sedikit meningkatkan kesadaran kita semua untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. Silahkan menanggapi, menyanggah, ataupun memberikan saran. 


Salam,

Zulfa

2 comments: