Pages

Wednesday, October 23, 2013

Unspoken words


Dalam waktu 3,5 tahun ini, di kota tempatku merantau mencari ilmu untuk menjadi sosok insan yang lebih mulia banyak hal yang terjadi. Hal yang terjadi juga tersebut, diantaranya terlalu banyak yang membuatku menatap kosong dan membuatku tidak bisa berfikir sama sekali.

Devi Faralita, aku pernah menuliskan betapa aku sangat mengagumi sosokmu beberapa bulan yang lalu. Memang kamu jauh lebih muda daripada aku, sehingga kita mempunyai panggilan kesayangan satu sama lain. Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena banyolan kita sendiri dan hanya kita sendiri yang paham. Kamu tau aku sangat dan sangat menghargai besar waktuku yang kita habiskan bersama terlepas dari segala masalah yang kita hadapi. kita termasuk mahasiswi dengan umur yang lebih muda dan kamu adalah yang paling muda dari yang lebih muda. tapi itu tidak menutup kemungkinan terdapat banyak sekali sifat yang mempesona yang hanya kamu miliki dan yang hanya kamu seorang yang bisa memancarkannya.

Hari Selasa, 22 Oktober 2013 kurang lebih pukul 20.00 WIB seorang wanita cantik Devi Faralita telah dipanggil kehadapan Alloh SWT. Seberapapun rasa sayang orang-orang terdekatnya kepadanya, Alloh telah membuat jalan yang lebih indah untukmu. Hikmah itu pasti akan datang. Seberapapun lamanya sebuah perkenalan, saya tau bahwa itu tidaklah abadi. Manusia hanya bisa berencana, lebih dari itu Alloh SWT yang akan menentukan.

Devi, 3,5 tahun lalu aku mengenalmu melalui ospek yang dilaksanakan di Fakultas Peternakan UGM. disana, memang bukan pertemuan pertama yang terlalu mengesankan. kami bertemu karena sama-sama termasuk mahasiswi yang notabene memiliki penyakit tertentu dan harus disendirikan ketika ada saat ospek yang sangat keras. disana aku mengenalnya, ah pribadi yang hangat. kesan pertama yang langsung terlintas. sudah cantik, pribasi yang hangat pula. semester pertama memang kita belum begitu dekat karena banyaknya jadwal kuliah yang berbeda, tapi memasuki semester kedua kami memiliki jadwal perkuliahan dari senin sampai jumat sama dan hampir semua jadwal praktikum kita sama, coincidence? doubt it. dari situ, banyak waktu yang kita habiskan bersama, dari mencari sumber literatur bersama, saling memberikan motivasi, saling membantu satu sama lain, dan selalu curhat tentang hal yang penting maupun nggak penting sama sekali. kita juga mengikuti seminar motivasi diri bersama dengan membuat resolusi untuk mencapai IP 4 di semester dua tadi. Dan tebaklah, kami benar-benar meraihnya! rasa syukur yang sangat besar dan rasa motivasi yang semakin tinggi yang kami berikan satu sama lain membuat kami menjadi lebih akrab dan bisa dikatakan kami seperti kakak beradik karena dia anak tunggal dan saya tidak punya adik perempuan. 

waktu terus bergulir, hingga tibalah pada saat-saat yang sangat lucu, dimana dia merupakan sosok wanita cantik dan sudah memiliki kekasih sedangkan saya yang biasa2 saja dan tidak terlalu memikirkan masalah hubungan kekasih. dan, pastilah disana terdapat kupu-kupu cinta yang bersemi, yaa saya pernah kagum dengan sosok orang, dan hanya Devi yang tau tentangnya. haha. dia memberikan banyak saran untuk saya walaupun akhirnya saya tidak menjalin hubungan kekasih dengan orang tersebut. Kami menjadi semakin akrab dan akrab, hingga dikatakan dia sering menghabiskan waktu bersama di kos saya [kami cenderung diam orangnya], mengantarkannya hingga shelter trans jogja, terkadang menunggu dia hingga dijemput sang pacar. dalam waktu-waktu itu banyak pembicaraan aneh yang datang diantaranya tentang bulutangkis. how times fly? 

kemudian, terdapat tantangan baru dalam menjadi insan yg lebih matang. yaitu menjadi asisten laboratorium. saya memilih laboratorium biokimia nutrisi dan dia memilih laboratorium hijauan makanan ternak. banyak hal baru ketika menjadi asisten, diantaranya yaitu "kesibukan pribadi". waktu semakin bergulir, dengan banyaknya kesibukan pribadi kami menjadi jarang bertatap muka dan bercerita ini itu, dia jg sudah bs membawa motor sendiri, sehingga saya tidak mengantarkannya lagi ke shelter. dan sampai pada saat saya menjalin hubungan kekasih dengan kakak tingkat [dan dia sangat membantu dalam pencapaian hubungan saya ini]. dan mungkin ketika dia merasa saya dapat ia percaya, dia mengatakan bahwa ibunya adalah sosok single parent sejak ia kecil sehingga dia ingin membahagiakan ibunya tersebut. dan dia berkenan mengajak saya ke rumahnya. keluarganya [ibunya, eyang kakung, eyang putri] sosok yang hangat seperti dirinya.

kesibukan yang semakin tinggi awalnya tidak membuat kita lost contact, tapi kita tetap memberi kabar setiap hari walaupun sekedar sms. namun waktu yang bergulir cepat dan ego yang sangat tinggi membuat adanya kesalahpahaman sehingga saya tau ada sesuatu yang aneh pada saat itu. tapi saya berusaha bersikap normal dengan meminta maaf padanya apabila saya memiliki kesalahan padanya, kami baik-baik saja. tapi mungkin karena parno dan takut kalau saya kehilangan sosok hangat tadi saya jadi menjadi lebih pendiam dan memberi jarak padanya. saya takut kalau saya kehilangan sahabat sebaik dia pada saat itu. 

Hingga akhirnya kita mengikuti lomba karya ilmiah dengan 2 sahabat saya yang lain, dan lagi-lagi kejahatan "ego" datang kembali, membuat adanya perselisihan kecil yang tidak kunjung diselesaikan mejadi lebih besar semakin besar dan sangat besar sehingga menjadikannya kesalahpahaman yang sangatlah besar. jarak kami semakin jauh. saya sebenarnya tidak menginginkan itu, dan saya tau dia juga mengharapkan hal yang sama, tapi mungkin tingkat parno kami yang lebih tinggi membuat penyelesaian jarak itu seperti di ambang awan.

masuklah saat-saat kkn dimana saya mengumpulkan kberanian untuk mendekatinya lagi seperti dulu, apalagi kami memliki hobi yang sama, menonton drama yang sama dengan tokoh favorit yang sama pula. indah bukan? dan ternyata jarak tersebut dapat ditepis. kami dekat kembali. tapi setelah kkn usai entah kenapa parno kami kembali hadir dan kami seperti ditempat pengasingan masing-masing. 

dan tibalah hari itu, Selasa 22 Oktober 2013 dimana saya melihatnya untuk terakhir kalinya. dia duduk di depan pada hari kuliahnya yang terakhir itu. saya hanya melihat punggungnya. pada saat itu saya berkeluh kesah dengan hati saya sendiri "Ya Alloh, saya ingin dekat dengannya lagi dan bercerita mengenai mimpi-mimpi kita kembali". Tapi Alloh mempunyai rencana lain diluar rencana saya tadi, Devi dipanggil menghadap kesisiNya. Sesaat mendapat kabar dari telfon seorang teman kuliah saya, saya sangat tidak percaya sangat sangat sangat tidak percaya. saya masih tidak percaya walaupun saya mendapat telfon dari 3 orang teman kuliah saya dan saya memutuskan untuk pergi ke rumahnya. saya tidak dapat berpikir apapun sepanjang perjalanan kerumahnya. yang bisa saya fikirkan adalah saya ingin memeluknya dan ingin berbagi bersama seperti yang kami dulu jalani sebagai sahabat dan kakak adik yang selalu melewati apapun bersama.

dan sewaktu saya sampai, ternyata hal itu benar adanya, beberapa tetangganya mengatakan kalau dia terkena musibah kecelakaan naas dan hal tersebut merenggut nyawanya. Saya tidak bisa menangis tidak dapat berkata apapun hanya berkata dalam hati kalau saya harus sabar dan harus merelakannya pergi dan pasti berkata kalau dia adalah sahabat terbaik yang saya miliki hingga sekarang. dan sesaat setelah itu, jenazahnya dipulangkan ke rumah duka. isak tangis menyelimuti rumahnya di kala tengah malam itu dimana saya hanya bisa berdiri terpaku pada hal yang saya masih tidak menyangka, dan saya untuk terakhir kalinya menyalaminya dalam sholat yang saya lakukan.

Ibunya yang dalam kondisi seperti itu, saya sungguh tidak tahan melihatnya. ironis. tetapi sekali lagi, Alloh selalu memiliki rencana yang sangat indah.

Devi Faralita, gadis cantik, baik hati, pintar, pekerja keras, sabar telah pergi. semua kenangan disini hanyalah kenangan indah yang kita ukir bersama apapun itu merupakan kenangan indah karena kamu mengajarkanku untuk menjadi insan yang lebih baik dari setiap hal yang telah kita jalani bersama. suka duka, canda tawa, senang marah kita alami bersama. aku tau Devi masih memiliki segudang mimpi yang belum diraihnya, tapi hingga sampai di akhir hayatnya ia mampu membanggakan orang tuanya dengan mimpi yang telah ia raih dan mimpi yang ingin ia ciptakan untuk membahagiakan sang ibu.

Devi, doa ini akan selalu aku panjatkan dalam setiap akhir sholatku untukmu dan keluargamu. semoga insan mulia tersebut diberikan tempat terindah disisi Alloh SWT. 


Devi Faralita,
Sahabatku,
Adekku,
Selamat jalan,
Alloh SWT akan selalu menjagamu,
Aamiin

No comments:

Post a Comment